Pertumbuhan ekonomi halal tidak hanya berbicara tentang produk yang memenuhi prinsip halal. Ketika sebuah bisnis mulai berkembang, ada banyak hal lain yang ikut menentukan apakah bisnis tersebut mampu bertahan dan naik kelas: tata kelola, kedisiplinan finansial, hingga kepatuhan perpajakan.
Perspektif tersebut menjadi bagian dari kehadiran Tax Point dalam Halal Startup Demo Day (HSDD) 2026, program yang diselenggarakan oleh Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) bersama Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (DEKS BI).
Dalam kesempatan tersebut, Tax Point menjadi salah satu startup yang masuk dalam proses kurasi dan memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan solusi, perkembangan bisnis, serta potensi kontribusinya bagi ekosistem ekonomi halal melalui sesi pitching di Bappenas, Jakarta.
152 Startup dalam Satu Ekosistem Halal
HSDD 2026 mempertemukan startup dari berbagai jalur kurasi. Sebanyak 152 startup masuk dalam proses kurasi melalui jaringan KNEKS, kementerian dan lembaga, venture capital, PUM, inkubator dan akselerator, hingga perguruan tinggi.
Angka tersebut menunjukkan bahwa perkembangan halal economy semakin terhubung dengan ekosistem startup, investor, regulator, institusi pendidikan, mentor, dan berbagai mitra strategis.
Artinya, pembicaraan mengenai ekonomi halal tidak lagi berhenti pada produk dan sertifikasi. Di belakang sebuah bisnis yang ingin berkembang, terdapat kebutuhan untuk membangun perusahaan yang sehat secara finansial, memiliki tata kelola yang baik, serta mampu memenuhi kewajiban bisnisnya secara berkelanjutan.
Bagi Tax Point, perkembangan tersebut menjadi ruang untuk membawa perspektif yang berbeda, yaitu tax technology sebagai salah satu infrastructure layer yang dapat membantu bisnis tumbuh dengan governance dan compliance yang lebih kuat.
Ketika Bisnis Halal Mulai Tumbuh, Kompleksitas Pajak Ikut Bertambah
Ekonomi halal Indonesia mencakup berbagai sektor, mulai dari makanan dan minuman halal, fesyen muslim, pariwisata ramah muslim, farmasi dan kosmetik halal, ekonomi kreatif syariah, energi terbarukan, keuangan syariah, pangan, pendidikan, hingga peternakan dan sektor inovatif lainnya.
Seiring bisnis berkembang, aktivitas operasional pun biasanya ikut berubah.
Revenue mulai meningkat. Transaksi semakin banyak. Pegawai mulai direkrut. Supplier dan vendor bertambah. Cabang mulai dibuka. Bahkan, bagi startup, pendanaan dari investor mulai masuk.
Di titik tersebut, persoalan pajak tidak lagi sesederhana membayar dan melaporkan pajak. Struktur transaksi menjadi lebih kompleks dan keputusan bisnis mulai memiliki konsekuensi perpajakan yang perlu dipahami sejak awal.
Karena itu, Tax Point menempatkan dirinya bukan sebagai lembaga pemberi sertifikasi halal, melainkan sebagai tax compliance enabler bagi bisnis yang berada dalam ekosistem halal.
Perannya adalah membantu entrepreneur memahami, merencanakan, dan memenuhi kewajiban perpajakan dengan dukungan teknologi dan professional tax expertise.
Dari Taxpert AI hingga Eling
Pendekatan tersebut dibangun Tax Point melalui tiga solusi yang saling melengkapi.
Taxpert AI hadir sebagai asisten perpajakan berbasis AI yang membantu pengguna memahami persoalan pajak secara lebih cepat dan kontekstual.
Kemudian ada Taxvisor Marketplace, platform yang menghubungkan pengguna dengan konsultan pajak terkurasi ketika suatu persoalan membutuhkan professional judgment dan pendampingan manusia.
Sementara itu, Eling merupakan aplikasi manajemen dan perencanaan pajak yang membantu UMKM mengelola transaksi, mengidentifikasi kewajiban pajak, serta mengingat proses pembayaran dan pelaporan secara lebih terstruktur.
Ketiga solusi tersebut dibangun dengan satu prinsip: AI when you need speed. Human expertise when you need judgment.
Bagi Tax Point, teknologi bukan untuk menggantikan professional expertise. AI dan automation digunakan untuk mengurangi pekerjaan administratif, mempercepat akses terhadap informasi, sekaligus membuat layanan perpajakan lebih mudah dijangkau oleh bisnis yang belum memiliki kapasitas untuk membangun tim pajak internal.
Tax Technology dan Masa Depan Halal Economy
Dalam ekosistem HSDD 2026, ekonomi syariah dilihat secara lebih luas, termasuk dari sisi sumber pembiayaan dan business conduct seperti etika bisnis, kepedulian sosial, serta keberlanjutan lingkungan.
Tax Point berada pada bagian yang berbeda, tetapi tetap memiliki hubungan dengan kebutuhan tersebut. Governance dan compliance yang baik menjadi salah satu fondasi agar pertumbuhan bisnis dapat berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.
Bagi entrepreneur, pajak juga sebenarnya dapat memberikan lebih dari sekadar kewajiban administratif.
Ketika transaksi dicatat dengan baik, struktur biaya dapat terlihat lebih jelas. Ketika kewajiban pajak dipetakan sejak awal, cash flow dapat direncanakan dengan lebih baik. Ketika risiko transaksi diketahui lebih dini, founder memiliki ruang yang lebih besar untuk mengambil keputusan.
Dengan kata lain, data perpajakan dapat menjadi bagian dari business intelligence yang membantu entrepreneur memahami kondisi bisnisnya secara lebih menyeluruh.
Membantu Bisnis Halal Menjadi Investment-Ready
Salah satu bagian penting dari HSDD 2026 adalah mempertemukan startup dengan investor dan mitra strategis.
Dalam proses pitching, startup perlu mampu menjelaskan berbagai aspek bisnis, mulai dari problem and solution, competitive advantage, business performance, product and pricing, market analysis, financial performance, team, impact, roadmap, hingga halal aspect. Investor juga melihat berbagai aspek seperti innovation, market fit, sustainability, scalability, dan business performance.
Di balik berbagai indikator tersebut, terdapat satu fondasi yang tidak kalah penting: financial and tax readiness.
Bisnis yang ingin mendapatkan investasi perlu memiliki transaksi yang dapat dijelaskan. Bisnis yang ingin scale up perlu memahami konsekuensi dari struktur bisnisnya. Sementara bisnis yang ingin masuk ke pasar yang lebih besar membutuhkan governance yang semakin kuat.
Karena itu, tax technology dapat menjadi salah satu bagian dari infrastruktur yang membantu bisnis bergerak dari small business, menjadi scalable business, hingga akhirnya menjadi investment-ready business.
Scale Up Tanpa Kehilangan Control
Bagi banyak UMKM dan startup, tantangan pertumbuhan bukan hanya bagaimana meningkatkan penjualan, tetapi juga bagaimana tetap sehat ketika bisnis semakin besar.
Omzet yang meningkat belum tentu selalu berarti margin yang semakin sehat. Pendanaan yang masuk juga membutuhkan governance yang memadai. Begitu pula dengan ekspansi bisnis yang dapat membawa konsekuensi perpajakan baru apabila tidak dipersiapkan sejak awal.
Karena itu, Tax Point ingin hadir sebelum persoalan tersebut muncul.
Tax literacy tidak seharusnya baru dimulai ketika entrepreneur menerima surat dari kantor pajak. Tax planning juga tidak ideal jika baru dilakukan setelah seluruh transaksi selesai. Begitu pula dengan compliance yang seharusnya tidak menjadi hambatan bagi pertumbuhan bisnis.
Good tax management should grow together with the business.
Dari 152 Startup Menuju Pitching di Bappenas
Masuk dalam proses kurasi bersama 152 startup dari berbagai ekosistem nasional menjadi bagian penting dari perjalanan Tax Point dalam HSDD 2026.
Kesempatan melakukan pitching di Bappenas bukan hanya tentang memperkenalkan Tax Point kepada ekosistem investor dan mitra strategis. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi kesempatan untuk membawa perspektif tax technology ke dalam percakapan yang lebih luas mengenai masa depan ekonomi halal Indonesia.
Produk halal membutuhkan akses pasar. Entrepreneur membutuhkan pembiayaan. Startup membutuhkan investor. Investor membutuhkan bisnis yang dapat dipercaya.
Dan bisnis yang dapat dipercaya membutuhkan good governance, financial discipline, dan compliance.
Di titik inilah Tax Point ingin berkontribusi: membantu bisnis dalam ekosistem halal menjadi lebih compliant, efficient, and ready to scale.
Building Better Businesses Through Better Tax Decisions
Bagi Tax Point, partisipasi dalam Halal Startup Demo Day 2026 bukanlah tujuan akhir. Ini menjadi bagian dari perjalanan untuk membangun solusi perpajakan yang semakin relevan dengan kebutuhan entrepreneur Indonesia.
Masa depan konsultasi pajak bukan sekadar memindahkan layanan konvensional ke platform digital. Lebih jauh dari itu, teknologi diharapkan dapat membantu entrepreneur memahami konsekuensi pajak sebelum mengambil keputusan, membuat proses compliance semakin otomatis, mendeteksi risiko lebih awal, dan menghadirkan professional expertise dengan akses yang lebih mudah.
Pada akhirnya, pajak bukan hanya persoalan administratif. Pajak juga menjadi bagian dari bagaimana sebuah bisnis menjaga margin, mengelola risiko, dan membangun pertumbuhan yang sustainable.
Melalui Taxpert AI, Taxvisor Marketplace, dan Eling, Tax Point terus membawa pendekatan yang menggabungkan Artificial Intelligence, automation, dan professional tax expertise untuk membantu entrepreneur, UMKM, startup, profesional, dan perusahaan memahami serta mengelola perpajakan dengan lebih mudah, personal, dan efisien.
Because a sustainable halal economy needs sustainable businesses.
Penulis: Muhammad Shofi'ul Fikri M.
