Ada perjalanan yang selesai ketika pesawat mendarat kembali di rumah. Ada juga perjalanan yang justru baru dimulai setelah kita pulang.
Bagi Tax Point, perjalanan ke Shanghai dan Shenzhen bersama NextDev Telkomsel menjadi salah satu perjalanan yang meninggalkan lebih dari sekadar foto dan cerita. Perjalanan benchmarking ini membuka kesempatan untuk melihat lebih dekat bagaimana teknologi, bisnis, industri, dan startup tumbuh dalam sebuah ekosistem yang bergerak cepat.
Datang ke China membuat kami tidak hanya melihat apa yang sudah berhasil dibangun, tetapi juga memahami bagaimana sebuah ide bisa bergerak dari kepala, menjadi produk, masuk ke pasar, lalu berkembang menjadi bisnis yang lebih besar.
Dan dari sana, muncul satu pertanyaan sederhana: apa yang bisa kita bawa pulang untuk Indonesia?
Shanghai Mengajarkan Arti Sebuah Ekosistem
Shanghai memberikan perspektif tentang bagaimana bisnis dapat tumbuh ketika berbagai elemen dalam ekosistem saling terhubung.
Teknologi, industri, sumber daya manusia, pasar, modal, hingga berbagai layanan pendukung tidak berjalan sendiri-sendiri. Semuanya menjadi bagian dari sebuah ekosistem yang membuat proses pengembangan bisnis terasa lebih terintegrasi.
Pengalaman tersebut mengingatkan kami bahwa membangun bisnis bukan hanya tentang memiliki produk yang bagus.
Ada banyak hal yang menentukan perjalanan sebuah bisnis. Seberapa dekat kita dengan pasar. Seberapa cepat kita mendapatkan feedback. Seberapa siap operasional berjalan. Seberapa tepat kita mengambil keputusan ketika kondisi berubah.
Ketika ekosistem mampu memperpendek jarak antara ide, orang yang membangun, industri, modal, dan pasar, proses untuk berkembang pun menjadi lebih dinamis.
Di titik inilah benchmarking menjadi menarik. Kita tidak hanya datang untuk melihat sesuatu yang berbeda, tetapi juga untuk bertanya kembali kepada diri sendiri: bagian mana yang bisa kita pelajari dan relevansikan dengan kondisi Indonesia?
Shenzhen dan Pelajaran Tentang Kecepatan
Kalau Shanghai memberikan gambaran tentang ekosistem, Shenzhen memberikan pelajaran tentang kecepatan.
Di Shenzhen, sebuah ide tidak berhenti terlalu lama di atas kertas. Ide dibangun, diuji, mendapatkan respons dari pasar, diperbaiki, kemudian diuji kembali.
Build fast. Test fast. Adapt fast. Scale fast.
Bukan berarti semuanya harus dilakukan terburu-buru. Justru sebaliknya, kecepatan menjadi berarti ketika diikuti kemampuan untuk belajar dan beradaptasi.
Shenzhen juga memperlihatkan betapa dekatnya hubungan antara teknologi dan industri. Engineer, pemasok komponen, pabrik, packaging, logistik, seller, hingga customer berada dalam sebuah jaringan yang membuat jarak antara ide dan implementasi menjadi semakin pendek.
Di tengah perkembangan AI, hal tersebut menjadi semakin relevan.
AI tidak lagi hanya berbicara tentang teknologi yang terlihat canggih. AI mulai terhubung dengan mesin, pabrik, supply chain, retail, dan berbagai persoalan operasional yang benar-benar terjadi di dunia nyata.
Dari sini kami belajar bahwa inovasi bukan hanya tentang siapa yang memiliki ide paling menarik.
Ide itu murah. Yang mahal adalah kemampuan untuk membuatnya bekerja.
Produk harus benar-benar digunakan. Customer harus mendapatkan manfaat. Operasional harus berjalan. Keuangan harus sehat. Dan ketika sesuatu tidak bekerja, bisnis harus cukup adaptif untuk memperbaikinya, bahkan membangunnya kembali.
Karena pada akhirnya, realitas akan selalu menjadi tempat sebuah cerita bisnis diuji.
Dari China, Kembali Melihat Indonesia
Perjalanan ini juga membuat kami melihat Indonesia dari sudut pandang yang berbeda.
Indonesia memiliki pasar yang besar dan peluang yang terus berkembang. Di sisi lain, perusahaan yang ingin masuk ke Indonesia perlu memahami bahwa peluang tersebut datang bersama kompleksitasnya sendiri.
Terutama bagi perusahaan China yang membawa produk, teknologi, maupun model bisnisnya ke Indonesia.
Pertanyaannya bukan hanya bagaimana menjual produk.
Tetapi juga bagaimana produk tersebut masuk ke Indonesia, siapa yang menjalankan aktivitas bisnis, bagaimana struktur usahanya, bagaimana transaksi lintas negara dilakukan, dan bagaimana kewajiban pajak serta kepatuhan dijalankan.
Pilihan untuk menggunakan distributor, mendirikan PT PMA, hingga membangun aktivitas perakitan atau manufaktur lokal memiliki konsekuensi yang berbeda.
Begitu pula dengan transaksi seperti management fee, technical service fee, software fee, royalty, dan marketing support. Di dalam praktiknya, transaksi tersebut tidak cukup hanya memiliki kontrak dan invoice. Substansi transaksi, pihak yang memberikan layanan, manfaat yang diterima, kewajaran harga, transfer pricing, serta kewajiban pemotongan pajak juga perlu diperhatikan.
Di sinilah kami melihat bahwa ekspansi bisnis bukan hanya tentang masuk ke pasar.
Tetapi tentang masuk dengan struktur yang tepat dan mampu bertahan di dalamnya.
Ketika Teknologi Bertemu Pajak
Pengalaman benchmarking di China semakin memperkuat keyakinan Tax Point bahwa teknologi dan pengetahuan lokal perlu berjalan bersama.
Teknologi dapat membantu mempercepat proses. Namun, konteks tetap menjadi kunci.
Perpajakan Indonesia memiliki aturan, karakter transaksi, dan kondisi bisnis yang perlu dipahami secara spesifik. Karena itu, Tax Point mengembangkan Taxpert AI sebagai bagian dari upaya membangun local tax intelligence yang lebih kontekstual terhadap kebutuhan Indonesia.
Berdasarkan playbook internal Tax Point, Taxpert AI memiliki lebih dari 50.000 contextual Indonesian tax-case simulations dengan sekitar 90% internal benchmark accuracy menggunakan pertanyaan yang dimodelkan dari ujian USKP. Angka tersebut merupakan benchmark internal dan bukan sertifikasi maupun endorsement resmi dari USKP.
Bagi Tax Point, AI bukan untuk menggantikan manusia.
AI digunakan untuk membantu memahami konteks, melakukan scenario modelling, dan memberikan dukungan dalam proses pengambilan keputusan. Sementara untuk interpretasi dan implementasi dengan risiko tinggi, human reviewer tetap memiliki peran penting.
Karena teknologi yang baik bukan hanya teknologi yang mampu memberikan jawaban.
Teknologi yang baik adalah teknologi yang mampu memahami konteks di balik pertanyaan.
Yang Dibawa Pulang Bukan Hanya Insight
Shanghai dan Shenzhen mungkin berada ribuan kilometer dari Indonesia. Tetapi perjalanan ini justru membuat kami semakin dekat dengan satu hal: memahami apa yang dibutuhkan bisnis untuk tumbuh.
Kami melihat bagaimana kecepatan dapat menjadi kekuatan. Bagaimana ekosistem dapat memperpendek proses. Bagaimana teknologi dapat masuk ke persoalan yang nyata. Dan bagaimana sebuah ide pada akhirnya harus bertemu dengan eksekusi.
Perjalanan bersama NextDev Telkomsel ini menjadi ruang bagi Tax Point untuk belajar, mengamati, dan melihat kembali perjalanan kami sendiri.
Karena benchmark bukan tentang menjadi sama dengan apa yang kita lihat.
Benchmark adalah tentang melihat lebih jauh, lalu menemukan apa yang bisa kita bangun dengan cara kita sendiri.
Dari Shanghai, kami belajar tentang ekosistem.
Dari Shenzhen, kami belajar tentang kecepatan.
Dan ketika kembali ke Indonesia, kami membawa satu hal yang lebih penting: perspektif baru tentang bagaimana teknologi, bisnis, dan tax intelligence dapat berjalan bersama untuk menjawab kebutuhan bisnis Indonesia.
Karena ide bisa datang dari mana saja. Tetapi dampaknya harus dibangun di tempat kita berada.
Penulis: Muhammad Shofi'ul Fikri M.
