Portal Pajak

Unggul dari 270 Startup, Tax Point Raih Best of the Best NextDev 11 dan Siapkan Inovasi Pajak Menuju 2027

19
Unggul dari 270 Startup, Tax Point Raih Best of the Best NextDev 11 dan Siapkan Inovasi Pajak Menuju 2027

Tax Point, di bawah naungan PT Aneka Solusi Pajak, berhasil meraih penghargaan Best of the Best NextDev 11 dalam ajang NextDev Summit 2026 yang diselenggarakan Telkomsel di Jakarta pada 9 April 2026. Pencapaian ini menjadi langkah penting bagi Tax Point dalam mengembangkan solusi perpajakan yang semakin relevan dengan kebutuhan pelaku usaha, khususnya UMKM dan startup di Indonesia.

Perjalanan menuju penghargaan tersebut tidak mudah. Dari sekitar 270 startup yang mendaftar, proses seleksi menyaring peserta hingga tersisa 200 startup, kemudian 18 peserta, dan akhirnya 10 finalis. Melalui rangkaian program NextDev, Tax Point mendapatkan kesempatan untuk memperkuat strategi bisnis, mengevaluasi kebutuhan pengguna, serta mempersiapkan inovasi yang akan dikembangkan menuju 2027.

Bukan Sekadar Mengikuti Tren AI, tetapi Memahami Kebutuhan Pengguna

NextDev 11 mengangkat tema Unleashing AI Impact, yang menekankan pentingnya pemanfaatan kecerdasan buatan untuk menciptakan dampak nyata. Bagi Tax Point, pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa mengadopsi AI bukan sekadar mengikuti tren teknologi. Hal yang lebih penting adalah memastikan teknologi tersebut mampu menjawab persoalan yang benar-benar dihadapi pengguna.

Dalam pengembangan produk, pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan tetap menjadi fondasi utama. Manusia berperan dalam memahami persoalan dan membangun empati terhadap pengguna, sementara AI dapat membantu mempercepat riset, pembuatan prototipe, serta otomatisasi proses. Hasil yang dikembangkan tetap perlu diperiksa oleh manusia, terutama untuk memastikan akurasi, kepatuhan terhadap regulasi, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan bisnis.

Pendekatan ini menjadi relevan bagi industri perpajakan. Informasi pajak tidak cukup hanya disampaikan secara cepat, tetapi juga harus akurat, mudah dipahami, dan sesuai dengan kondisi masing-masing wajib pajak. Karena itu, pemanfaatan teknologi perlu berjalan beriringan dengan keahlian profesional dan pemahaman terhadap kebutuhan pelanggan.

Mentoring NextDev 11 dan Benchmarking ke China Membentuk Strategi yang Lebih Terarah

Selama mengikuti NextDev 11, Tax Point menjalani tahapan Scouting, Academy, dan Summit. Setiap tahap memberikan ruang untuk mengevaluasi fondasi bisnis, menguji kebutuhan pasar, serta menyusun strategi pengembangan produk yang lebih terarah. Melalui bootcamp, sesi bersama para ahli, dan pendampingan, peserta didorong untuk memperkuat model pendapatan, melakukan validasi pelanggan, serta menentukan pemanfaatan AI yang benar-benar relevan.

Salah satu pembelajaran penting dalam proses tersebut adalah konsep lean. Pendekatan ini bukan sekadar menekan biaya atau mengurangi jumlah tenaga kerja, melainkan memprioritaskan aktivitas yang memberikan dampak terbesar bagi pengguna dan bisnis. Sebelum mengembangkan fitur lebih jauh, kebutuhan pasar perlu diuji agar produk yang dihasilkan tidak hanya menarik secara teknologi, tetapi juga dibutuhkan oleh penggunanya.

Pembelajaran tersebut semakin diperkaya melalui perjalanan benchmarking ke Shanghai dan Shenzhen, China. Shanghai memberikan gambaran mengenai keterhubungan antara industri, teknologi, modal, talenta, dan pasar. Sementara itu, Shenzhen memperlihatkan bagaimana proses membangun, menguji, menerima masukan, dan memperbaiki produk dapat dilakukan dengan cepat.

Bagi Tax Point, pengalaman ini bukan tentang meniru ekosistem bisnis negara lain secara langsung. Hal yang lebih penting adalah memahami pola yang bisa diterapkan sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia. Inovasi perlu dikembangkan dengan mempertimbangkan karakter pengguna, kesiapan teknologi, dan kondisi bisnis yang dihadapi.

Target Penerimaan Perpajakan 2027 dan Kebutuhan Layanan yang Lebih Mudah Diakses

Pengembangan layanan perpajakan juga perlu melihat kondisi penerimaan negara dan tantangan yang dihadapi wajib pajak. Dalam dokumen sumber, target penerimaan perpajakan dalam APBN 2027 tercatat sebesar Rp2.911,95 triliun. Angka tersebut terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp2.593,35 triliun dan kepabeanan serta cukai sebesar Rp318,60 triliun.

Sebagai pembanding, penerimaan pajak sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp1.917,6 triliun atau sekitar 87,6 persen dari target. Sementara itu, hingga 30 September 2026, penerimaan pajak mencapai Rp1.607,6 triliun atau 68,2 persen dari target tahun tersebut, dengan pertumbuhan sebesar 24,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Angka-angka ini perlu dipahami secara proporsional. Capaian penerimaan hingga September tidak serta-merta berarti target tahun 2026 pasti tidak tercapai. Begitu pula dengan peningkatan target penerimaan yang tidak otomatis berarti seluruh wajib pajak akan menghadapi kenaikan pajak atau pemeriksaan.

Di tengah perkembangan tersebut, akses terhadap edukasi dan pendampingan perpajakan menjadi semakin penting. Pelaku UMKM dan startup membutuhkan informasi yang praktis agar dapat memahami kewajiban pajaknya sejak awal, mengelola administrasi dengan lebih tertib, serta mengambil keputusan bisnis berdasarkan informasi yang tepat.

Inovasi Tax Point Menuju 2027: Memperkuat Edukasi dan Eling Pajak

Memasuki 2027, Tax Point berencana memperluas kelas perpajakan dan pendampingan bagi UMKM, startup tahap awal, serta wirausaha muda. Upaya ini akan dilakukan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, inkubator bisnis, dan komunitas usaha.

Edukasi yang diberikan akan berfokus pada persoalan sehari-hari yang sering dihadapi pelaku usaha. Melalui konten dan program #DailyTaxHack, Tax Point ingin membantu pengguna memahami berbagai topik praktis, mulai dari pemilihan bentuk badan usaha, pajak atas transaksi, pemotongan pajak karyawan, pemanfaatan fasilitas perpajakan yang tersedia secara legal, hingga pencatatan keuangan.

Selain edukasi, Tax Point juga terus mengembangkan Eling Pajak agar semakin membantu pengguna dalam menjalankan administrasi perpajakan. Pengembangan yang direncanakan mencakup penyederhanaan impor data transaksi, bantuan AI untuk mengidentifikasi perlakuan pajak, pengingat kewajiban, serta dukungan administrasi lainnya.

Integrasi pembayaran dan pelaporan akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan teknis, keamanan data, dan ketentuan yang berlaku. Dengan pendekatan tersebut, Eling Pajak diharapkan dapat menjadi penghubung antara pengetahuan yang diperoleh pengguna dan kebiasaan mengelola kewajiban pajak secara rutin.

Untuk persoalan yang membutuhkan interpretasi lebih mendalam, Tax Point juga menyediakan dukungan melalui Taxvisor dan konsultan profesional. Dengan demikian, pengguna dapat memperoleh bantuan sesuai dengan kompleksitas kebutuhan perpajakan masing-masing.

Dari Penghargaan Menuju Dampak Nyata bagi UMKM Indonesia

Penghargaan Best of the Best NextDev 11 menjadi pencapaian penting bagi Tax Point. Namun, keberhasilan inovasi tidak berhenti pada penghargaan atau perkembangan teknologi. Dampak yang lebih berarti adalah ketika pelaku usaha dapat menjalankan kewajiban pajak tanpa kebingungan, memahami potensi risiko sejak awal, dan mengambil keputusan bisnis dengan lebih percaya diri.

Melalui kombinasi edukasi, pendampingan profesional, dan pengembangan teknologi, Tax Point berupaya menghadirkan layanan perpajakan yang lebih mudah diakses oleh berbagai kalangan pelaku usaha. Pendekatan ini juga menjadi bagian dari persiapan Tax Point dalam menghadapi kebutuhan bisnis yang terus berkembang menuju 2027.

Bagi Tax Point, teknologi yang baik bukan hanya tentang kecanggihan fitur, melainkan tentang seberapa jauh teknologi tersebut membantu pengguna menyelesaikan persoalan nyata. Prinsip inilah yang menjadi landasan pengembangan layanan Tax Point agar tetap relevan, praktis, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.

Tax Point: Accessible, Affordable, and On Point.

Bagikan Artikel

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!